Hits dipuja dan disembah. Peduli setan yang baca harus ‘keracunan’. Tanda-tanda kiamat online?
DEP – Dunia berubah. Bukan alien atau E.T. yang akhirnya benar-benar mendarat di bumi. Dunia baru itu dikenal daring atau online.
Semua yang online kini jauh lebih ampuh. Bikin hidup makin sempit tapi jangkauan makin luas dan tak terbatas.
Lewat ng-online, sekarang bahkan gak perlu keluar kamar sekedar untuk bisa ngobrol dengan kawan di benua seberang.
Dunia baru ini unik. Tak kasat mata tapi dampaknya paling terasa di kehidupan sehari-hari. Semua difasilitasi Internet dan makin lama, penduduk di dunia baru ini juga semakin padat.
Nah, sama seperti di dunia nyata, populasi dunia maya yang semakin sumpek ikut membawa masalah di dunia nyata ke dunia maya.
—
Sekali klik, semua orang sekarang bisa masuk ke dunia digital. Semua urusan, mulai dari pribadi, keluarga, bisnis, grup dan lain-lain kini ikut pindah ke alamat baru dengan awalan www.
Jika di dunia nyata ada KTP, di dunia maya, orang kemana-mana dengan akun atau username.
Makin banyak orang jadi penghuni dunia maya. Belanja, baca, nulis, nonton, ngobrol, atau bahkan berantem sekarang normal dilakukan secara online di dunia maya.
Semua dilakukan dengan fasilitas hunian baru di sosmed, blog, dan lain-lain.
—
Media online
Salah satu medium yang ikut bermigrasi ke dunia maya adalah media online. Jurnalistik berevolusi menyesuaikan diri dengan kebutuhan di dunia maya lewat rumah baru media online.
Karena tipikal dan gaya pembaca yang khas, media online juga dituntut punya strategi segar di ranah baru ini. Maklum, jika dulu orang baca kertas, sekarang mereka baca ‘kaca’ alias layar gadget.
Singkatnya, di ranah persaingan sesama media online, muncul satu parameter baru. Salah satu yang hingga saat ini masih saja jadi patokan buat kaum konservatif yaitu angka hits.
Angka ini dianggap sakral, dan didewakan. Dipuja-puja dan disembah sebagai tujuan utama bisnis media online. Seolah-olah, dunia bakal kiamat kalo hits, traffic, atau pageviews-nya rendah.
Akibatnya, hits tertinggi dianggap paling sempurna. Mau sebagus apapun konten kompetitor, kalo jumlah visitor-nya gak banyak, berarti gak bagus.
—
Nah, masalah jadi rumit karena kualitas konten yang baik tak selalu berbanding lurus dengan topik yang disukai pembaca.
—

—
Sejak hits, pageviews, atau web traffic naik jadi komandan, semua strategi umumnya cuma merujuk pada satu tujuan. Jumlah hits naik secepat mungkin, sebanyak mungkin, dan dengan cara apapun.
Istilahnya, makan babi yang haram di dunia nyata bisa jadi halal kalo di dunia maya yang kasat mata.
Mengingat kualitas pembaca online Indonesia yang masih sekedar asal pencet, angka hits jelas ibarat santapan lezat. Sah-sah saja sebagai strategi, tapi jadi tanda tanya ketika bicara kualitas isi konten.
Dibuatlah jebakan betmen. Topik ngawur, bombastis, atau bahkan judul yang gak nyambung dengan isi konten.
Targetnya orgasme-klik pembaca kala disodori isu-isu ‘sensual’. Sensual tak selalu identik dengan urusan ‘itu’, tapi juga tren di masyarakat yang sayangnya tak diolah oknum media online untuk elevated knowledge.
Rumusnya simpel, yang penting calon korban masuk duluan. Peduli dia ngamuk karena judul gak sesuai tulisan atau konten yang ngawur isinya, yang penting sudah kecatat sebagai visitor.
Memang, taktik ini ibarat jalan pintas. Jelas lebih ‘hemat’ bikin konten murahan dibanding konten berkualitas.
Faktanya, konten berkualitas yang bikinnya pakai usaha dan otak juga gak bakal sukses generate viewer sebanyak konten ‘vulgar’.
—
Kalau televisi sanggup nyala 24 jam non-stop, media online pun tak kalah sangar. Falsafahnya, mereka harus terus update dan tak henti beroperasi selama bumi masih berputar.
Masalah makin runyam ketika yang menerapkan strategi tersebut adalah media-media online dengan nama besar. Dengan biduk besar, mereka pun memiliki kemampuan besar untuk membombardir netizen.
—
Sayangnya, hal ini ibarat penemuan yang mubazir. Manfaat utama dari kehadiran media online pun ikut jadi pertanyaaan.
Mengingat potensinya yang sangat besar untuk bisa langsung bersentuhan dengan publik, apakah kehadiran mereka sudah dalam kapasitas yang positif?
Apakah hal ini jadi pertanda jika satu kesempatan besar, yaitu penetrasi internet di Tanah Air sudah gagal dimanfaatkan untuk hal yang positif…?
—
Gagalnya dunia baru?
Memang, aksi barbar dari para oknum media online ini kaya jurus dewa mabuk. Lempar sebanyak mungkin dengan harapan ada satu atau dua yang kena sasaran.
Ibarat panah, aksi serampangan jelas tak butuh kemampuan dan kepiawaian.
Tren ngawur yang justru semakin marak ini jelas membuat pembaca jadi korban pertama yang berguguran. Mereka kehilangan hak mendapat edukasi yang baik dan mencerdaskan.
Sayangnya, beberapa oknum media online pun, besar maupun kecil, tampak masa bodoh dengan kenyataan tersebut dan terus maju pantang mundur demi kepentingan masing-masing.
—

—
Kesimpulannya, jika sejarah penemuan Internet layak disamakan dengan fase penemuan dunia baru oleh Columbus, maka milestone tersebut nyatanya gagal dimanfaatkan untuk peradaban Indonesia yang lebih baik…
—
destyan on destyan@gmail.com